Sengketa Kawasan Hutan Lindung Antara Perhutani Dengan Masyarakat Desa Kemloko Kecamatan Tembarak Kabupaten Temanggung

AuthorAsteris Melisa Koesoema
PositionGedung K1 Lantai 1 FH Unnes, Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, 50229
Pages1-9
1
ULJ 3 (1) (2014)
UNNES LAW JOURNAL
http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ulj
SENGKETA KAWASAN HUTAN LINDUNG ANTARA PERHUTANI
DENGAN MASYARAKAT DESA KEMLOKO KECAMATAN TEMBARAK
KABUPATEN TEMANGGUNG
Asteris Meliza Koesuma
Program Studi Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Negeri Semarang, Indonesia
Info Artikel
________________
Sejarah Artikel:
Diterima April 2014
Disetujui Mei 2014
Dipublikasikan Juni 2014
________________
Keywords:
Dispute, the Area of Forest
Protected, the Supreme
Court Ruling
_________________
Abstrak
___________________________________________________________________
Penetapan status kawasan hutan Petak 23 KPH Kedu Utara seluas ± 141 hektar sebagai hutan lindung masih
menjadi pro kontra di masyarakat sekitar kawasan tersebut. Masyarakat setempat mengklaim bahwa lahan
kawasan hutan lidung tersebut merupakan lahan yang diperoleh secara turun temurun dari warisan nenek
moyang mereka. Meski sudah ada Putusan MA, namun masih tetap terdapat kendala dalam pelaksanaannya.
Latar belakang inilah yang membuat penulis tertarik untuk mengkaji tentang sengketa kawasan hutan lindung
Petak 23 KPH Kedu Utara antara Perhutani dengan masyarakat Desa Kemloko Kecamatan Tembarak
Kabupaten Temanggung. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pe nulis men genai sengket a kawasan hutan
lindung Petak 23 KPH Kedu Utara antara Perhutani dengan masyarakat Desa Kemloko. Faktor yang melatar
belakangi masyarakat tidak dapat menerima putusan MA, yaitu: masih adanya klaim dari masyarakat mengenai
kepemilikan lahan di kawasan hutan lindung tersebut, adanya faktor ekonomi ya ng disebabkan karena tingginya
tingkat kebutuhan masyarakat akan tanah, dan a danya anggapan masyarak at setempat tentang pengelolaan
kawasan hutan lindung dengan cara mereka me rupakan tindakan yang merusak hutan. Upaya Perhutani dalam
pelaksanaan putusan MA di kawasan hutan lindung Petak 23 KPH Kedu Utara adalah mengadakan sosialisasi,
pemberdayaan masyarakat setempat, serta melakukan monitoring dan evalu asi. Sedangkan hambatan yang
dialami Perhutani dalam up aya pelaksanaan putusan MA di kawasan hutan lindung Petak 2 3 KPH Kedu Utara
yakni lemahnya pemahaman masyarakat, dan adanya stigma buruk mengenai Pe rhutani.
.
Abstract
__________________________________________________________________
Determination of the status of forest plots 23 KPH North Kedu of ± 141 acres as protected forests still be pros and cons in communities around the
region. Local people claim that the land is a an area of protected forests land acquired for generations of their heritage. Although there have been the
Supreme Court ruling, but still there are problems in implementation . It is necessary to research conducted by the authors to examine the disputed
area of protected forests of plots 23 KPH North Kedu between Perhutani with villagers Kemloko Tembarak Distri ct of Temanggung County. Based
on the result of research by the author of the disputed area of protected forests of plots 23 KPH North Kedu between Perhutani with Kemloko
villagers, it is known that the factors underlying the background factors people can not accept the Supreme Court ruling, there are: the persistence of
the claims of the public regarding land ownership in the region the protected forests, the existence of economic factors caused by the high level of
community need for land, and the notion of local communities on forest management protected by the way they are not acts that destroy the forest.
Perhutani efforts in the implementation of the Supreme Court ruling in the protected forests of plots 23 KPH North Kedu is the socialization,
empowerment of local communities, as well as monitoring and evaluation. While the barriers experienced in the implementation of forestry the
Supreme Court ruling in the protected forest of plots 23 KPH North Kedu the lack of the public understanding, and the bad stigma about Perhutani.
.
© 2014 Universitas Negeri Semarang
Alamat korespondensi:
Gedung K1 Lantai 1 FH Unnes
Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, 50229
E-mail: fh@unnes.ac.id
ISSN 2301-6744

To continue reading

Request your trial